Malam itu raja Bimbisara melewati
malam yang sangat mengerikan seumur hidupnya. Ia tidak bisa tidur karena
mendengar lengkingan dan suara-suara hantu
(peta) yang mengerikan di sekitar kediaman sepanjang malam. Menghadapi
kenyataan itu Ia menjadi sangat ketakutan, hingga bulu kuduknya berdiri, rambut
menjadi tegak. Ia sungguh ketakutan di malam itu. Karena merasa sangat
menderita, pada pagi harinya Raja menemui Buddha, di kediaman-Nya Veluvana.
Tuesday, 29 March 2016
Sejarah Pattidana Ching Ming (Ceng Beng) dalam ajaran Buddha
Friday, 27 December 2013
CATTARI ARIYA SACCANI
CATTARI ARIYA SACCANI
(Empat
Kesunyataan Mulia)
DALAM khotbah-Nya yang pertama di Tamari Rusa Isipatana yang
terkenal dengan nama Dhamma Cakkappavattana Sutta (Khotbah Pemutaran
Roda Dhamma), Sang Buddha Gotama telah mengajarkan secara singkat Empat
Kesunyataan Suci (Cattari Ariya Saccani), yang menjadi landasan pokok Buddha
Dhamma.
Empat Kesunyataan Suci tersebut adalah :
A. KESUNYATAAN SUCI TENTANG DUKKHA (Dukkha Ariyasacca)
Kata "dukkha" disini, yang menyatakan pandangan
Sang Buddha tentang kehidupan dan dunia, mempunyai pengertian filosofis yang
mendalam dan mencakup bidang yang amat luas.
Dalam khotbah-Nya yang pertama setelah mencapai Penerangan
Sempurna, Beliau merumuskan dukkha dengan istilah sebagai berikut :
"Kelahiran, usia tua dan kematian adalah dukkha;
kesakitan, keluh kesah, ratap tangis, kesedihan dan putus asa adalah dukkha;
berpisah dengan yang dicintai, berkumpul dengan yang tidak disenangi, dan tidak
memperoleh apa yang diingini adalah dukkha. Dengan ringkas, jasmani dan bathin
(segala bentuk kehidupan) adalah dukkha".
Banyak orang salah mengerti terhadap Ajaran ini, dan
beranggapan bahwa Buddha Dhamma adalah ajaran pesimistis, yang memandang dunia
ini dari sudut negatif. karena itu disini perlu ditegaskan bahwa Buddha Dhamma
bukanlah Ajaran yang bersifat pesimistis atau optimistis. Sang Buddha adalah
seorang realis dan obyektif; Beliau memandang segala sesuatu menurut hakekat
yang sebenarnya berdasarkan Pandangan Terang (Yathabhutamnanadassanam).
Kerukunan Antar Umat Beragama Dalam Kajian Buddha-dhamma
Pengertian Agama
Dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) kata agama didefinisikan
sebagai suatu system, prinsip kepercayaan kepada tuhan (dewa dan sebagainya)
dengan ajaran kebaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan
kepercayaan itu.
Dalam Buddha Dhamma kata agama lebih dikenal dengan sebutan Sasana atau Dhamma, yang secara harafiah berarti kebenaran atau kesunyataan.
Agama Buddha sering disebut Buddha Dhamma
atau Buddha Sasana yang artinya
ajaran yang menghantarkan orang yang melaksanakannya agar hidup bahagia di
dunia, setelah kematian dapat terlahir di alam surga dan hingga pada akhirnya
mencapai tujuan tertinggi yaitu tercapainya Nibbana.
Buddha Dhamma sebagai pedoman untuk membebaskan diri dari penderitaan, sehingga
mencapai kebahagiaan dalam kehidupan sekarang maupun yang akan datang.
Peranan
Agama-Agama
Di dalam keyakinan umat beragama, umat Buddha hendaknya menanamkan
keyakinan yang kokoh kepada Tuhan Yang Maha Esa, Buddha, Dhamma dan Sangha,
sehingga terjalin suatu toleransi sesama agama yang ada di Indonesia. Dasar
keyakinan agar terbentuknya suatu kerukunan umat beragama dalam agama Buddha,
diikrarkan oleh raja Asoka Wardana yang merupakan salah satu raja yang berkeyakinan
terhadap Buddha. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya Prasasti Batu Kalinga
No XXII Raja Asoka yang memeluk agama Buddha pada abad ketiga sebelum masehi,
yang berbunyi:
Thursday, 12 December 2013
JALAN MULIA BERUNSUR DELAPAN
(Ariya
Atthangiko Magga)
Dalam Dhammacakkappavattana Sutta; Samyutta Nikaya 56.11 {S 5.420}, Guru Buddha mengajarkan Empat Kebenaran Ariya (Cattari Ariya Saccani) kepada Lima Bhikkhu Pertama (Panca Vaggiya Bhikkhu), yang di dalamnya terdapat Jalan yang Menuju Terhentinya Dukkha. Jalan itu disebut dengan Jalan Mulia Berunsur Delapan (Ariya Atthangiko Magga).
Di dalam Jalan ini mengandung unsur sila
(kemoralan), samadhi (konsentrasi), dan panna (kebijaksanaan). Berikut pengelompokan
unsur yang terkandung di dalamnya:
Pañña
1. Pengertian Benar (sammâ-ditthi)
2. Pikiran Benar (sammâ-sankappa)
Sila
3. Ucapan Benar (sammâ-väcä)
4. Perbuatan Benar (sammâ-kammanta)
5. Pencaharian Benar (sammâ-ajiva)
Samâdhi
6. Daya-upaya Benar (sammâ-vâyama)
7. Perhatian Benar (sammâ-sati)
8. Konsentrasi Benar (sammâ-samâdhi)
1. Pengertian Benar (sammâ-ditthi)
2. Pikiran Benar (sammâ-sankappa)
Sila
3. Ucapan Benar (sammâ-väcä)
4. Perbuatan Benar (sammâ-kammanta)
5. Pencaharian Benar (sammâ-ajiva)
Samâdhi
6. Daya-upaya Benar (sammâ-vâyama)
7. Perhatian Benar (sammâ-sati)
8. Konsentrasi Benar (sammâ-samâdhi)
Tuesday, 24 September 2013
KEWAJIBAN SEORANG SUAMI
Di dalam agama Buddha tidak dibahas hak seorang suami, yang ada hanyalah
kewajiban seorang suami sebagai kepala keluarga. Dalam Mangala Sutta terdapat
sebuah bait yang bunyinya sebagai berikut :
MATAPITU UPATTHANAM
PUTTADARASSA SANGAHO
ANAKULA CA KAMMANTA
ETAMMANGALAMUTTAMAM
artinya :
Menyokong dan merawat ayah dan ibu
Membahagiakan anak dan istri
Pekerjaan yang bebas dari keruwetan
Itulah Berkah utama
(Khuddaka Patha halaman 3)
Seorang suami sebagai kepala keluarga wajib memiliki penghasilan yang secukupnya agar dapat memenuhi segala kebutuhan keluarganya. Ia wajib membahagiakan anak dan isterinya di samping menyokong dan merawat kedua orang tuanya yang masih hidup. Kepada orang tua dan leluhur yang sudah meninggal maka ia wajib melakukan Pattidana (Melakukan perbuatan-perbuatan jasa yang kemudian dilimpahkan kepada para almarhum tersebut)
Agar seorang suami tidak dibenci oleh isterinya maka ia wajib rajin bekerja agar tidak jatuh miskin, wajib memelihara kesehatan agar tidak sakit-sakitan, wajib menghindarkan minuman keras agar tidak mabuk-mabukan, wajib banyak belajar agar tidak bodoh, wajib bersikap telaten dan perduli agar tidak mengabaikan isterinya, jangan terlalu sibuk dan dapat membagi waktunya untuk isteri, wajib berhemat dan tidak meng-hambur-hamburkan uang
(Jataka V, 433)
MATAPITU UPATTHANAM
PUTTADARASSA SANGAHO
ANAKULA CA KAMMANTA
ETAMMANGALAMUTTAMAM
artinya :
Menyokong dan merawat ayah dan ibu
Membahagiakan anak dan istri
Pekerjaan yang bebas dari keruwetan
Itulah Berkah utama
(Khuddaka Patha halaman 3)
Seorang suami sebagai kepala keluarga wajib memiliki penghasilan yang secukupnya agar dapat memenuhi segala kebutuhan keluarganya. Ia wajib membahagiakan anak dan isterinya di samping menyokong dan merawat kedua orang tuanya yang masih hidup. Kepada orang tua dan leluhur yang sudah meninggal maka ia wajib melakukan Pattidana (Melakukan perbuatan-perbuatan jasa yang kemudian dilimpahkan kepada para almarhum tersebut)
Agar seorang suami tidak dibenci oleh isterinya maka ia wajib rajin bekerja agar tidak jatuh miskin, wajib memelihara kesehatan agar tidak sakit-sakitan, wajib menghindarkan minuman keras agar tidak mabuk-mabukan, wajib banyak belajar agar tidak bodoh, wajib bersikap telaten dan perduli agar tidak mengabaikan isterinya, jangan terlalu sibuk dan dapat membagi waktunya untuk isteri, wajib berhemat dan tidak meng-hambur-hamburkan uang
(Jataka V, 433)
Saturday, 21 September 2013
KETUHANAN DALAM AGAMA BUDDHA
KETUHANAN DALAM AGAMA BUDDHA
Oleh
Bhikkhu Uttamo
Umat
Buddha kadang dianggap masyarakat luas sebagai orang yang tidak bertuhan. Agama
Buddha sering pula dikatakan sebagai agama yang tidak bertuhan. Bahkan, pada
suatu pertemuan dengan para pemuka agama, saya pernah menerima pernyataan dari
pemuka agama lain bahwa Agama Buddha tidak bertuhan. Menanggapi pernyataan yang
bersifat tuduhan ini, saya jawab dengan pertanyaan lain: ”Manakah agama di
Indonesia yang bertuhan?” Tentu saja para pemuka agama itu langsung tersentak
kaget dan merah padam mukanya. Mereka seolah tidak percaya dengan pertanyaan
saya tersebut. Namun, saya segera melanjutkan dengan keterangan bahwa istilah
‘tuhan’ sesungguhnya berasal dari Bahasa Kawi. Oleh karena itu, pengertian kata
‘tuhan’ terdapat dalam kamus Bahasa Kawi. Disebutkan dalam kamus tersebut bahwa
‘tuhan’ berarti penguasa atau tuan. Dan, karena di Indonesia tidak ada agama
yang mempergunakan Bahasa Kawi sebagai bahasa kitab sucinya, lalu agama manakah
di Indonesia yang bertuhan dan mencantumkan istilah ‘tuhan’ dalam kitab suci
aslinya? Menyadari kebenaran tentang bahasa asal kitab suci masing-masing,
barulah mereka menerima bahwa memang tidak ada istilah ‘tuhan’ dalam kitab suci
mereka. Jika demikian dalam Tipitaka, kitab suci Agama Buddha, tentu juga tidak
akan pernah ditemukan istilah ‘tuhan’ karena Tipitaka menggunakan Bahasa Pali
yaitu bahasa yang dipergunakan di India pada jaman dahulu. Namun, tidak adanya
istilah ‘tuhan’ dalam kitab suci Tipitaka tentunya tidak boleh dengan mudah dan
sembarangan kemudian orang menyebutkan bahwa ‘Agama Buddha tidak bertuhan’.
Salah pengertian dan penafsiran sedemikian sembrono tentunya berpotensi menjadi
pemicu pertentangan antar umat beragama di Indonesia bahkan di berbagai belahan
dunia.
Sunday, 11 August 2013
Empat Tingkat Kesucian
Dalam ajaran Buddha
terdapat empat jenis tingkatan kesucian.
Dimana hal ini dicapai bagi ia yang telah membasmi dan melemahkan
belenggu-belenggu penghalang pencapaianya. Penggolongan manusia awam/biasa pada
umumnya diluar dari empat tingkat kesucian tersebut yang disebut putthujhana/manusia biasa yang masih
tercengkram kuat oleh tiga kekotoran batin yaitu lobha/keserakahan, dosa/kebencian
dan moha/kebodohan batin.
Dalam artikel ini empat
jenis kesucian akan dibahas berdasarkan Belenggu yang disingkirkan dan kelahiran
yang tersisa. Untuk lebih jelas perhatikan table berikut:
|
Tingkat
Kesucian
|
Belenggu yang
Baru disingkirkan
|
Jenis
Kelahiran ulang yang tersisa
|
|
Sotāpanna
|
Sakkāyadiṭṭhi, (dibasmi)
Vicikiccha, (dibasmi)
Silabbataparāmāsa (dibasmi)
|
Paling
banyak tujuh kali lagi kelahiran di alam deva dan manusia dengan kondisi
bahagia.
|
|
Sakadāgāmi
|
Kāmarāga (hanya lemah)
Paṭigha (hanya lemah)
|
Satu
kali lagi kehidupan di alam lingkup indrawi dengan kondisi bahagia.
|
|
Anāgāmi
|
Kāmarāga (dibasmi)
Paṭigha (dibasmi)
|
Kelahiran
spontan di alam arūpa
|
|
Arahat
|
Rūparāga (dibasmi)
Arūparāga (dibasmi)
Māna (dibasmi
Uddhacca (dibasmi)
Avijjā (dibasmi)
|
Tidak
terlahir lagi/Nibbāna.
|
Keterangan
sepuluh macam belenggu:
1.
Sakkāyadiṭṭhi (kepercayaan tentang akan
adanya diri yang terpisah dan kekal/atta)
2.
Vicikiccha (keraguan terhadap Buddha dan
ajara-Nya)
3.
Silabbataparāmāsa (Kepercayaan terhadap upacara
yang tergolong dalam pandangan salah)
4.
Kāmarāga (hawa nafsu/nafsu inderia
rendah)
5.
Paṭigha (kebencian, dendam, kemauan
jahat, kedengkian)
6.
Rūparāga (kemauan/keinginan untuk hidup
di alam rūpa/materi)
7.
Arūparāga (kemauan/keinginan untuk hidup
di alam ārūpa/tanpa materi)
8.
Māna (kesombongan)
9.
Avijjā (kebodohan batin, kegelapan
batin).
Penjelasan:
Sotāpanna :
Seseorang yang telah mencapai tingkat kesucian Sotāpanna, ia telah berhasil
membasmi tiga macam belenggu dari sepuluh belenggu yang menghalangi pencapaian
kesucian Arahat. Tidak akan muncul lagi kepercayaan tentang akan adanya diri
yang terpisah dan kekal/atta , tidak
akan ada keraguan terhadap Buddha dan ajara-Nya, dan tidak akan ada Kepercayaan
terhadap upacara yang tergolong dalam pandangan salah di dalam konsepsinya.
Ketiga hal tersebut ia basmi dengan pandangan benar yang berhubungan dengan Jalan
Mulia Berunsur Delapan, sehingga pemahaman tersebut dikatakan pencerahan karena
ia yang mencapai tingkatan kesucian Sotāpanna
ini, telah melihat dengan benar bahwa tiga belenggu itu merupakan penghalang.
Sakadāgāmi.
Dikatakan telah mencapai tingkatan Sakadāgāmi
bila seseorang telah membasmi tiga belenggu yang pertama dan melemahkan dua
belenggu selanjutnya. Sakkāyadiṭṭhi, Vicikiccha dan Silabbataparāmāsa telah dibasmi dengan tuntas oleh Sakadāgāmi, sedangkan Kāmarāga atau hawa
nafsu rendah dan Paṭigha atau kebencian, dendam, kemauan jahat, dua hal itu
hanya dilemahkan oleh Sakadāgāmi. Dikatakan
lemah karena ia dapat mengendalikan dua belenggu tersebut namun sesungguhnya
dua belenggu tersebut masih terdapat dalam dirinya. Maka dari itu kata
melemahkan sangatlah cocok untuk menggantikan istilah ini.
Anāgāmi Seseorang yang
telah mencapai tingkatan Anāgāmi ia
tidak akan terlahir kembali di alam
manusia. Kelahiranya hanya bersisa satu kali lagi. Yaitu di alam Tusita. Di alam ini seorang Anāgāmi
terlahir secara sepontan atau opapatika. Hal ini dikarenakan usahanya yang
gigih dari penimbunan kebajikan paramita dan usahanya yang gigih dalam membasmi
belenggu-belenggu penghalang pencapaian tingkat kesucian. Seorang Anāgāmi telah membasmi Lima kekotoran
batin. Tidak ada lagi Sakkāyadiṭṭhi, Vicikiccha, Silabbataparāmāsa, Kāmarāga
dan Paṭigha di dalam dirinya. Semua itu
telah ia basmi sampai ke akar-akarnya. Sehingga ia disebut seorang Anāgāmi yaitu yang “Tak Kembali Lagi”. Yang
dimaksud tak kembali lagi disini ialah tidak akan terlahir lagi di alam manusia
dan Empat alam Apaya.
Arahat.
Arahat adalah seseorang yang telah
mencapai tingkat kesucian yang tertinggi. Ia telah menyelesaikan tugas yang
sesungguhnya. Kelahiran yang sekarang adalah kelahiranya yang terakhir. Setelah
badan atau jasmaninya hancur maka ia pun tidak akan terlahir di alam manapun
juga. Buddha memberikan perumpamaan kepada Upayisa. Ketika Upayisa menanyakan
hal ini. Perumpamaan tersebut di ibaratkan seperti hal nya api yang padam
setelah tertiup oleh angin. Tak ada yang tahu dimana letak api tersebut setelah
ia padam, begitu juga dengan seorang Arahat.
Seorang Arahat tidak akan telahir
lagi di alam manapun. Karena tidak ada kelahiran bagi arahat maka usia tua,
sakit dan kematian serta lingkaran samsara telah tiada bagi Arahat. Karena hal-hal tersebut tidak
dijumpai lagi maka ia telah mengakhiri dukkha/penderitaan. Untuk menjadi
seorang Arahat harus membasmi sepuluh
macam kekotoran batin. Sedikitpun dari sepuluh belenggu tersebut tidak ada yang
tersisa. Ketika hal itu terjadi maka seseorang tersebut adalah suci karena
tidak ada kekotoran atau belenggu di dalam dirinya.
Empat jenis kesucian
tersebut dapat dicapai atas usaha sendiri dari memahami Dhamma/kebenaran
disamping itu factor yang tidak kalah penting adalah Paramita yang akan selalu
mendukung pencapaian tersebut. Untuk lebih jelas silahkan mencari refrensi
tentang sepuluh paramita atau Dasaparami pada refrensi Buddhist.
Semoga menambah
wawasan. (http://vgbmbatam.blogspot.com/)
Refrensi:
-
Bhikkhu Bodhi. 2009. Tipitaka Tematik, Ehipassiko.
-
Panjika. 2004. Kamus Umum Buddha Dharma.
Tri Satva Buddhist Centre.
-
Tipiṭakadhara. Mingun Sayadaw. Riwayat
Agung Para Buddha 1,2 dan 3. Ehipassiko Collection dan Girimaṅgala.
-
Bhikkhu Kusaladhamma. 2009. Kronologi
Hidup Buddha. Ehipassiko Foundation.
Subscribe to:
Posts (Atom)




